Pemuda adat: Jembatan emas, benteng budaya, dan aktor perubahan di antara dua dunia

Kamis, 2 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anak asli suku besar Onate yang mendominasi Pulau Yapen, Luter Kandipi. (XTIFA/Istimewa)

 

Oleh: Luter Kandipi

 

PEMUDA adat memiliki posisi yang sangat krusial sebagai jembatan emas antara masa lalu dan masa depan.

Di tengah arus modernisasi, globalisasi, dan perubahan sosial-ekonomi, eksistensi pemuda adat, baik dari suku-suku besar di wilayah adat Papua maupun daerah lainnya menjadi benteng terakhir kelestarian budaya.

Secara umum, peran strategis yang dimainkan oleh generasi muda dalam menjaga warisan para leluhur meliputi beberapa pilar utama berikut:

Penjaga Tradisi Lisan dan Pengetahuan Lokal

Warisan leluhur masyarakat adat sebagian besar tidak tertulis dalam buku, melainkan tersimpan dalam ingatan para tetua adat. Pemuda adat berperan aktif dalam:

• Mentransfer Ilmu: Belajar langsung dari para orang tua mengenai silsilah keluarga, hukum adat, cerita rakyat, lagu-lagu daerah, serta mantra atau doa tradisional.

• Digitalisasi Kebudayaan: Memanfaatkan teknologi (seperti merekam audio, membuat video dokumenter, atau menulis artikel) untuk mendokumentasikan ritual adat agar tidak hilang saat para tetua wafat.

Baca Juga :  Supervisi manajerial oleh pengawas sekolah: Pengertian, tujuan, ruang lingkup, dan pendekatan

Pengawal Wilayah Adat dan Hak Ulayat

Bagi masyarakat adat, tanah dan alam adalah ibu yang memberikan kehidupan. Warisan leluhur bukan hanya soal tari-tarian, melainkan mencakup hak ulayat (tanah bersama milik masyarakat adat).

• Pemetaan Wilayah: Banyak pemuda adat kini belajar menggunakan teknologi GIS (Geographic Information System) untuk memetakan batas-batas wilayah adat mereka guna memperjuangkan pengakuan hukum dari pemerintah.

• Penjaga Ekosistem: Menerapkan kembali sistem konservasi tradisional, misalnya aturan kapan boleh berburu, menanam, atau mengambil hasil alam, agar alam tetap lestari untuk generasi berikutnya.

Pelaku Aktif Ritual dan Kesenian Tradisional

Warisan leluhur akan mati jika hanya dijadikan tontonan museum. Pemuda adat bertindak sebagai motor penggerak agar tradisi tetap “hidup”.

Mereka mengorganisir sanggar seni, mempelajari cara memainkan alat musik tradisional (seperti tifa), dan secara aktif terlibat dalam upacara adat, baik upacara pernikahan, penyambutan tamu, maupun ritual kedewasaan.

Diplomasi Kebudayaan dan Advokasi Hukum

Tantangan terbesar masyarakat adat saat ini adalah benturan dengan kepentingan industri atau modernisasi yang kadang mengabaikan hak-hak lokal.

Baca Juga :  37 calon Paskibraka Kota Jayapura ikuti prapemusatan, 6 Lolos ke provinsi dan 1 ke nasional

• Suara Komunitas: Pemuda adat yang menempuh pendidikan tinggi (sarjana hukum, sosial, atau lingkungan) bertindak sebagai pembela hak-hak masyarakatnya.

• Jembatan Komunikasi: Mereka menjembatani komunikasi antara komunitas adat dengan pemerintah atau pihak swasta agar keputusan pembangunan tidak merusak situs warisan leluhur atau mengusir masyarakat dari tanahnya sendiri.

Revitalisasi Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal

Melestarikan warisan leluhur berarti menjaga ketahanan pangan dan ekonomi tradisional. Pemuda adat banyak yang kembali melirik potensi lokal.

Seperti, mengembangkan kerajinan tangan khas, mempromosikan ekowisata berbasis budaya, atau mengelola pangan lokal secara berkelanjutan tanpa merusak alam.

Dengan mengemban kelima pilar ini, pemuda adat tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor utama dalam mengawal masa depan bangsanya.

Mereka membuktikan bahwa teknologi dan modernitas dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal, tanpa harus mengorbankan identitas sebagai anak adat.

 

 

(Penulis adalah anak asli suku besar Onate yang mendominasi Pulau Yapen, sekaligus mahasiswa program studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih angkatan 2025)

Berita Terkait

Dari Hentecahi untuk Indonesia: Manifestasi nilai Pancasila dalam pembentukan karakter generasi Port Numbay
Sanitasi sebagai jembatan antara SPAM dan SPALD dalam satu rantai pelayanan sanitasi aman
Pengaruh kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura: Motivasi kerja jadi kunci
Paskibraka sebagai laboratorium penguatan ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, dan pembentukan karakter bangsa
Makna dana Otsus di tengah tantangan pendidikan Papua
Kunci yang belum diputar: Kepemimpinan kepala sekolah penentu nasib pendidikan Yapen
Bukan vonis melainkan diagnosis: Akreditasi berbasis kinerja dan keadilan pendidikan di Papua
Guru, TIK, dan media digital: Jalan baru meningkatkan efektivitas pembelajaran di SMA dan SMK Kota Jayapura

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:11

Dari Hentecahi untuk Indonesia: Manifestasi nilai Pancasila dalam pembentukan karakter generasi Port Numbay

Kamis, 17 September 2026 - 07:52

Sanitasi sebagai jembatan antara SPAM dan SPALD dalam satu rantai pelayanan sanitasi aman

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:00

Pengaruh kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura: Motivasi kerja jadi kunci

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:23

Paskibraka sebagai laboratorium penguatan ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, dan pembentukan karakter bangsa

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:16

Pemuda adat: Jembatan emas, benteng budaya, dan aktor perubahan di antara dua dunia

Berita Terbaru

LT II Pramuka Muara Tami diikuti seluruh Gugus Depan di wilayah Kwartir Ranting Muara Tami pada upacara pembukaan Lomba Tingkat II Kwartir Ranting Muara Tami di SD Inpres 1 Koya Timur, Kota Jayapura, Kamis, 29 Oktober 2026. (XTIFA/Istimewa)

Ragam Berita

LT II Pramuka Muara Tami fokus bentuk karakter

Sabtu, 31 Okt 2026 - 20:03

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Abdul Majid, S.Pd., M.M.Pd, mewakili Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H, mencanangkan HUT ke-81 dan Hari Guru Nasional, dengan melepas balon gas di udara, Sabtu, 31 Oktober 2026. (XTIFA/La Ramah)

Ragam Berita

PGRI Kota Jayapura canangkan HUT ke-81 dan Hari Guru Nasional

Sabtu, 31 Okt 2026 - 19:52