Oleh: Achmad Nur Saichul Ma’arif
INDUSTRI Kecil dan Menengah (IKM) merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi daerah, karena berperan dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pengembangan produk lokal, dan penguatan aktivitas ekonomi daerah.
Di Kota Jayapura, IKM berkembang pada berbagai sektor, antara lain makanan dan minuman, pengolahan hasil perikanan, pengolahan hasil pertanian, kerajinan, fesyen, dan industri rumah tangga.
IKM tersebut tersebar di Distrik Jayapura Selatan, Distrik Jayapura Utara, Distrik Abepura, Distrik Heram, dan Distrik Muara Tami.
Penelitian terhadap 233 pelaku IKM di Kota Jayapura menemukan bahwa disiplin dan budaya organisasi berperan penting meningkatkan kinerja IKM, baik secara langsung maupun melalui peningkatan motivasi kerja.
Sementara itu, kompetensi terbukti meningkatkan kinerja secara langsung, tetapi tidak serta-merta menaikkan motivasi kerja.
Penelitian berjudul “Pengaruh Kompetensi, Disiplin, dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja IKM yang Dimediasi oleh Motivasi Kerja di Kota Jayapura”, disusun oleh Achmad Nur Saichul Ma’arif dibimbing Yohanis Rante, Westim Ratang, dan Arius Kambu.
Pendekatan yang digunakan kuantitatif dengan metode survei dan analisis Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) memakai SmartPLS 4.
Metode dan Sampel
Sampel purposive sebanyak 233 pelaku IKM diambil dari sekitar 555 unit usaha tercatat di Kota Jayapura pada 2026. Responden mewakili sektor makanan dan minuman, pengolahan hasil perikanan, kerajinan, dan fesyen.
Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert untuk menguji hubungan antara kompetensi, disiplin, budaya organisasi, motivasi kerja, dan kinerja IKM.
Temuan Utama
• Model menjelaskan 63,5% variasi motivasi kerja dan 86% variasi kinerja IKM.
• Kompetensi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja (koefisien 0,303), tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja (koefisien -0,011; p = 0,811). Motivasi kerja tidak memediasi pengaruh kompetensi terhadap kinerja.
• Disiplin berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi kerja (koefisien 0,494; p < 0,001) dan terhadap kinerja langsung (koefisien 0,213). Motivasi kerja memediasi pengaruh disiplin terhadap kinerja (efek tidak langsung 0,178; VAF 45,52%).
• Budaya organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi kerja (koefisien 0,428; p < 0,001) dan terhadap kinerja (koefisien 0,247). Motivasi kerja juga memediasi pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja (efek tidak langsung 0,154; VAF 38,40%).
• Motivasi kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja IKM (koefisien 0,346).
Analisis Singkat
Hasil menunjukkan perbedaan antara ability to perform (kompetensi) dan willingness to perform (motivasi).
Kompetensi teknis meningkatkan kemampuan pelaku usaha, tetapi tanpa dorongan motivasional dan lingkungan usaha yang mendukung, peningkatan kompetensi tidak otomatis mengubah perilaku atau motivasi.
Disiplin dan budaya organisasi bekerja melalui dua jalur, yaitu langsung membentuk perilaku kerja dan secara tidak langsung meningkatkan kinerja melalui peningkatan motivasi.
Kondisi IKM di Kota Jayapura
Penelitian mencatat kendala yang menghambat pengembangan IKM, yaitu keterbatasan penerapan kompetensi, lemahnya penguasaan teknologi produksi, kurangnya inovasi, keterbatasan pembiayaan, rendahnya kemampuan pemasaran digital, dan pengelolaan usaha yang belum profesional.
Hanya 30% responden pernah mengikuti pelatihan kewirausahaan, dan sekitar 40% melaporkan menerapkan hasil pelatihan secara konsisten.
Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan temuan, peneliti merekomendasikan agar pemerintah daerah dan pemangku kepentingan mengimplementasikan program pemberdayaan IKM yang lebih menyeluruh, meliputi:
• Pelatihan berbasis kebutuhan usaha dan pendampingan pasca-pelatihan agar keterampilan diterapkan.
• Penguatan disiplin usaha: pencatatan keuangan, jadwal produksi, pengendalian kualitas, dan pemenuhan pesanan.
• Pengembangan budaya usaha yang menekankan inovasi, mutu, kejujuran, dan pelayanan pelanggan.
• Program peningkatan motivasi: target usaha realistis, akses pasar, penghargaan, promosi produk, dan jejaring bisnis.
• Dukungan rantai hulu-hilir serta pendampingan digitalisasi, legalitas, dan akses pembiayaan.
Keterbatasan dan Agenda Riset Lanjutan
Karena desain cross-sectional, penelitian hanya menggambarkan kondisi pada satu periode.
Disarankan studi lanjutan longitudinal dan penambahan variabel seperti akses pembiayaan, digitalisasi, orientasi kewirausahaan, kepemimpinan, dan dukungan pasar untuk memperkaya pemahaman tentang determinan kinerja IKM.
Penutup
Penelitian ini menegaskan bahwa meningkatkan kinerja IKM di Kota Jayapura membutuhkan pendekatan integratif, yaitu menggabungkan peningkatan kompetensi teknis, penguatan disiplin dan budaya organisasi.
Serta, peningkatan motivasi, didukung oleh program berkelanjutan dari pemerintah dan pemangku kepentingan.
(Penulis adalah mahasiswa Program Doktor llmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih Jayapura)











