Guru, TIK, dan media digital: Jalan baru meningkatkan efektivitas pembelajaran di SMA dan SMK Kota Jayapura

Rabu, 24 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih, Himawan Setiajid. (XTIFA/Istimewa)

 

Oleh: Himawan Setiajid

 

PENDIDIKAN menengah di Kota Jayapura sedang berada pada titik penting. Perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan kebutuhan dunia kerja menuntut sekolah untuk tidak lagi menjalankan pembelajaran secara biasa-biasa saja.

SMA dan SMK, sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan murid untuk melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja, perlu memastikan bahwa proses pembelajaran benar-benar efektif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik masa kini.

Dalam konteks tersebut, ada tiga unsur penting yang perlu diperhatikan, yaitu kompetensi profesional guru, dukungan teknologi informasi dan komunikasi, serta ketersediaan media digital.

Ketiganya memiliki hubungan yang erat dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran murid. Jika salah satu unsur tidak berjalan dengan baik, maka proses pembelajaran juga sulit mencapai hasil yang maksimal. Kompetensi profesional guru merupakan fondasi utama.

Guru yang profesional bukan hanya guru yang mampu menguasai materi pelajaran, tetapi juga guru yang mampu mengelola kelas, memilih metode pembelajaran yang tepat, memahami karakter murid, serta menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman.

Di tingkat SMA, guru dituntut membantu murid berpikir kritis, memahami konsep, dan mempersiapkan diri ke pendidikan tinggi.

Sementara itu, di SMK, guru juga perlu menghubungkan pembelajaran dengan keterampilan kerja, praktik industri, dan kebutuhan dunia usaha.

Namun, kompetensi profesional guru pada era digital tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menggunakan teknologi.

Guru tidak cukup hanya mengajar dengan cara lama, apalagi jika murid sudah hidup dalam lingkungan yang akrab dengan gawai, internet, video, dan berbagai platform digital.

Pembelajaran yang hanya berpusat pada ceramah sering kali membuat murid pasif. Sebaliknya, ketika guru mampu memanfaatkan teknologi secara tepat, pembelajaran dapat menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami.

Meski demikian, teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi efektif. Banyak sekolah memiliki perangkat digital, tetapi pemanfaatannya belum tentu optimal.

Proyektor, laptop, jaringan internet, atau aplikasi pembelajaran hanya akan menjadi fasilitas biasa apabila tidak digunakan dengan strategi pedagogis yang tepat.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran guru.

Baca Juga :  Guru kota dan guru 3T: Ketika pengabdian tidak selalu dimulai dari ruang kelas yang sama

Dukungan TIK di SMA dan SMK Kota Jayapura perlu dipandang sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan.

Dukungan ini tidak hanya berarti tersedianya komputer atau jaringan internet, tetapi juga mencakup kebijakan sekolah, pelatihan guru, kesiapan teknis, serta budaya belajar digital.

Sekolah perlu memiliki arah yang jelas: untuk apa teknologi digunakan, bagaimana guru memanfaatkannya, dan bagaimana murid memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.

Di sisi lain, ketersediaan media digital juga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Media digital dapat berupa video pembelajaran, modul elektronik, presentasi interaktif, simulasi, kuis daring, platform belajar, hingga bahan ajar berbasis konteks lokal.

Untuk murid SMA, media digital dapat membantu memahami materi yang abstrak, seperti konsep sains, sejarah, ekonomi, atau bahasa.

Untuk murid SMK, media digital dapat memperkuat pembelajaran praktik, misalnya melalui video prosedur kerja, simulasi alat, tutorial kejuruan, dan dokumentasi proses produksi.

Yang perlu digarisbawahi, media digital yang baik bukan sekadar media yang menarik secara visual. Media digital harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik murid, kondisi sekolah, dan kebutuhan daerah.

Di Kota Jayapura, media digital juga idealnya memuat konteks lokal Papua. Pembelajaran akan lebih bermakna ketika murid dapat menghubungkan materi dengan lingkungan sosial, budaya, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan demikian, teknologi tidak membuat pembelajaran terasa jauh dari realitas murid, tetapi justru mendekatkannya.

Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari perubahan nyata pada murid. Murid menjadi lebih aktif, lebih memahami materi, lebih percaya diri, mampu menyelesaikan tugas, serta dapat menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Di SMK, efektivitas juga dapat dilihat dari meningkatnya keterampilan praktik dan kesiapan kerja. Di SMA, efektivitas tampak dari kemampuan murid berpikir kritis, berkomunikasi, dan melanjutkan proses belajar secara mandiri.

Namun, persoalan yang sering muncul adalah kesenjangan akses. Tidak semua murid memiliki perangkat pribadi yang memadai.

Tidak semua keluarga mampu menyediakan kuota internet secara terus-menerus. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas TIK yang sama.

Karena itu, pemanfaatan media digital harus dirancang secara adil dan inklusif. Sekolah tidak boleh hanya mengejar pembelajaran digital, tetapi lupa pada kondisi nyata murid.

Baca Juga :  Kunci yang belum diputar: Kepemimpinan kepala sekolah penentu nasib pendidikan Yapen

Teknologi seharusnya membuka kesempatan belajar yang lebih luas, bukan menciptakan jurang baru antara murid yang mampu dan kurang mampu. Karena itu, peningkatan efektivitas pembelajaran di SMA dan SMK Kota Jayapura perlu dilakukan secara sistematis.

Pertama, guru perlu terus didorong untuk meningkatkan kompetensi profesional, terutama dalam merancang pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan berbasis teknologi.

Kedua, sekolah perlu memperkuat dukungan TIK melalui penyediaan fasilitas, pengelolaan jaringan, serta pendampingan teknis.

Ketiga, media digital perlu dikembangkan sesuai kebutuhan mata pelajaran, program keahlian, dan karakteristik murid.

Pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat perlu melihat isu ini sebagai tanggung jawab bersama. Pengadaan perangkat saja tidak cukup.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa perangkat tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pelatihan guru juga tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus menyentuh praktik nyata di kelas. Guru perlu diberi ruang untuk mencoba, mengevaluasi, dan berbagi pengalaman dengan sesama guru.

Pada akhirnya, hubungan antara kompetensi profesional guru, dukungan TIK, dan ketersediaan media digital merupakan kunci penting dalam membangun pembelajaran yang efektif di SMA dan SMK Kota Jayapura.

Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Guru yang profesional membutuhkan teknologi yang mendukung. Teknologi membutuhkan guru yang mampu menggunakannya secara tepat.

Media digital membutuhkan arah pembelajaran yang jelas agar tidak hanya menjadi tontonan, tetapi benar-benar menjadi sarana belajar.

Pendidikan di Jayapura memiliki peluang besar untuk berkembang apabila sekolah mampu menggabungkan kekuatan manusia dan teknologi.

Guru tetap menjadi pusat perubahan, sementara TIK dan media digital menjadi alat untuk memperluas cara belajar murid.

Dengan komitmen yang kuat, SMA dan SMK di Kota Jayapura dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, relevan, dan bermakna bagi masa depan generasi muda Papua.

 

 

(Penulis adalah guru mata pelajaran Kejuruan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 8 Teknologi, Informasi dan Komunikasi Kota Jayapura, saat ini menempuh pendidikan Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih)

Berita Terkait

Dari Hentecahi untuk Indonesia: Manifestasi nilai Pancasila dalam pembentukan karakter generasi Port Numbay
Sanitasi sebagai jembatan antara SPAM dan SPALD dalam satu rantai pelayanan sanitasi aman
Pengaruh kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura: Motivasi kerja jadi kunci
Paskibraka sebagai laboratorium penguatan ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, dan pembentukan karakter bangsa
Pemuda adat: Jembatan emas, benteng budaya, dan aktor perubahan di antara dua dunia
Makna dana Otsus di tengah tantangan pendidikan Papua
Kunci yang belum diputar: Kepemimpinan kepala sekolah penentu nasib pendidikan Yapen
Bukan vonis melainkan diagnosis: Akreditasi berbasis kinerja dan keadilan pendidikan di Papua

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:11

Dari Hentecahi untuk Indonesia: Manifestasi nilai Pancasila dalam pembentukan karakter generasi Port Numbay

Kamis, 17 September 2026 - 07:52

Sanitasi sebagai jembatan antara SPAM dan SPALD dalam satu rantai pelayanan sanitasi aman

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:00

Pengaruh kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura: Motivasi kerja jadi kunci

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:23

Paskibraka sebagai laboratorium penguatan ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, dan pembentukan karakter bangsa

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:16

Pemuda adat: Jembatan emas, benteng budaya, dan aktor perubahan di antara dua dunia

Berita Terbaru

LT II Pramuka Muara Tami diikuti seluruh Gugus Depan di wilayah Kwartir Ranting Muara Tami pada upacara pembukaan Lomba Tingkat II Kwartir Ranting Muara Tami di SD Inpres 1 Koya Timur, Kota Jayapura, Kamis, 29 Oktober 2026. (XTIFA/Istimewa)

Ragam Berita

LT II Pramuka Muara Tami fokus bentuk karakter

Sabtu, 31 Okt 2026 - 20:03

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Abdul Majid, S.Pd., M.M.Pd, mewakili Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H, mencanangkan HUT ke-81 dan Hari Guru Nasional, dengan melepas balon gas di udara, Sabtu, 31 Oktober 2026. (XTIFA/La Ramah)

Ragam Berita

PGRI Kota Jayapura canangkan HUT ke-81 dan Hari Guru Nasional

Sabtu, 31 Okt 2026 - 19:52