Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih, Fransiskus Merani, S.Pd. (XTIFA/Istimewa)
Oleh: Fransiskus Merani, S.Pd
DI INDONESIA, semua guru mengemban tugas yang sama, yaitu mendidik dan membentuk generasi masa depan. Namun, tidak semua guru memulai pengabdiannya dari kondisi yang sama.
Di satu sisi, ada guru yang mengajar di sekolah dengan akses internet cepat, ruang kelas nyaman, dan fasilitas pembelajaran lengkap.
Di sisi lain, ada guru yang harus menyeberangi laut, melewati jalan berlumpur, atau berjalan kaki berjam-jam hanya untuk memastikan peserta didik tetap mendapatkan hak pendidikan mereka.
Perbedaan kondisi inilah yang kemudian membentuk budaya kinerja guru yang kontras antara wilayah perkotaan dan daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Di kota, budaya kinerja guru tumbuh subur dalam lingkungan yang relatif mendukung. Berbagai pelatihan daring maupun luring dapat diikuti dengan mudah.
Informasi pendidikan terbaru cepat diakses, sementara kolaborasi antarguru, supervisi akademik, serta pengembangan profesional berjalan lebih lancar berkat dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai.
Alhasil, guru dapat lebih fokus pada inovasi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.
Sebaliknya, di daerah 3T, budaya kinerja guru ditempa oleh tantangan yang jauh lebih berat. Keterbatasan listrik, jaringan internet yang tidak stabil, minimnya sarana belajar, hingga akses transportasi yang sulit masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Tak sedikit guru yang harus menempuh perjalanan menggunakan perahu, melintasi sungai, atau berjalan kaki melewati medan berat demi tiba di sekolah tepat waktu.
Dalam kondisi seperti itu, ukuran kinerja guru tidak semata-mata dilihat dari kelengkapan administrasi pembelajaran atau pemanfaatan teknologi.
Kinerja mereka justru tercermin dari ketekunan hadir mengajar, kemampuan beradaptasi dengan keterbatasan, serta komitmen teguh untuk tetap melayani peserta didik meskipun berada jauh dari pusat pembangunan.
Ironisnya, masyarakat sering membandingkan hasil pendidikan antara sekolah di kota dan di daerah terpencil tanpa melihat perbedaan medan pengabdian yang dihadapi para guru.
Padahal, keberhasilan seorang guru di daerah 3T kerap lahir dari perjuangan yang jauh lebih besar daripada sekadar capaian yang terlihat di atas kertas.
Fakta ini menegaskan bahwa perbedaan budaya kinerja guru bukanlah soal siapa yang lebih baik atau lebih profesional.
Perbedaan itu terletak pada ruang kerja, kesempatan berkembang, dan dukungan yang diterima.
Guru di kota memiliki keunggulan fasilitas, sementara guru di daerah 3T memiliki keunggulan ketangguhan, daya juang, dan semangat pengabdian yang luar biasa.
Banyak guru di daerah 3T tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator, konselor, fasilitator, bahkan tokoh masyarakat yang mendorong perubahan sosial di lingkungannya.
Di tengah segala keterbatasan, mereka tetap berusaha memastikan anak-anak Indonesia memiliki kesempatan untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik.
Karena itu, sudah saatnya perhatian terhadap pendidikan tidak hanya terfokus pada pembangunan gedung sekolah atau penyediaan perangkat teknologi.
Yang lebih utama adalah memastikan guru-guru di daerah 3T memperoleh dukungan, pelatihan, fasilitas, dan kesejahteraan yang setara agar mereka dapat menjalankan tugas secara optimal.
Bangsa ini tidak boleh menilai kinerja guru hanya dari apa yang terlihat di ruang kelas. Kita juga harus melihat jalan panjang yang ditempuh seorang guru sebelum ia berdiri di depan peserta didiknya.
Sebab, di balik setiap sekolah yang berdiri di pulau-pulau terluar, di kampung-kampung pesisir, dan di daerah yang sulit dijangkau.
Ada guru-guru yang setiap hari mengajarkan satu pelajaran penting kepada bangsa ini bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari kemudahan yang dimiliki, melainkan dari kesediaan untuk tetap melayani di tengah segala keterbatasan.
Guru kota membangun pendidikan dengan fasilitas, sedangkan guru daerah 3T membangun pendidikan dengan perjuangan.
Keduanya sama-sama penting, tetapi pengorbanan guru di daerah 3T layak mendapat penghargaan yang lebih besar dari negara dan masyarakat.
(Penulis adalah mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih)











