Ringkasan Berita
• Konsolidasi agar KKST lebih solid, terstruktur, dan responsif terhadap kebutuhan warga.
• Menekankan kerja sama antar paguyuban, pemerintah daerah, adat, serta transparansi program dan keuangan.
• Visi “Rumah Besar yang Teduh” bagi KKST Papua. Misi empat bidang prioritas, yaitu pendidikan, ekonomi, budaya, dan sosial.
LAODE Safaati Syaifudin, M.Pd, terpilih sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Papua periode 2026–2031, setelah meraih 49 suara dalam Musyawarah Wilayah IV di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pemilihan berlangsung demokratis sesuai AD/ART organisasi ini diikuti oleh 76 pemilih, terdiri dari 74 peserta hadir langsung dan 2 peserta melalui Zoom.
Proses pemilihan diwarnai persaingan lima kandidat, yakni Dr. H. Firdaus Failu, SE, MM, La Kaimudin, SE, M.Si, Drs. Laode Safaati Syaifudin, M.Pd, Rahadin, S.AP, dan Laode Arifin, S.Pd, MA.
Selain dihadiri pengurus dan anggota, musyawarah wilayah juga melibatkan perwakilan empat paguyuban daerah asal Sulawesi Tenggara, yaitu Kendari, Wakatobi, Muna, dan Buton.
Laode Safaati menegaskan komitmen untuk melakukan konsolidasi organisasi agar KKST lebih solid, terstruktur, dan mampu menjawab kebutuhan warganya di Papua.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antar paguyuban, mendukung program pemerintah, dan transparansi dalam pengelolaan program, serta keuangan organisasi sebagai langkah awal memperkuat peran KKST di tanah perantauan.
Laode Safaati mengusung visi “Rumah Besar yang Teduh” untuk KKST Papua. Visi itu dirangkaikan dengan misi di empat bidang prioritas, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan sosial.
Dalam bidang pendidikan, Laode Safaati menyatakan tekad agar tidak ada anak warga Sultra di Papua yang putus sekolah karena masalah biaya.
Program konkret yang dijanjikan meliputi bantuan perlengkapan sekolah, bimbingan belajar gratis oleh relawan sarjana dan mahasiswa, serta layanan informasi dan pendampingan beasiswa.
Di bidang ekonomi, ia mendorong peningkatan kesejahteraan pelaku usaha mikro dan nelayan melalui pembentukan kelompok simpan-pinjam tanpa bunga, penyelenggaraan bazar kuliner khas Sultra, serta pelatihan kerja praktis seperti montir, menjahit, dan pemasaran daring.
Aspek budaya mendapat perhatian melalui program penguatan identitas, seperti menghidupkan kembali arisan berisi tradisi kampung, pelatihan seni tradisional untuk generasi muda, dan keterlibatan aktif KKST dalam kegiatan adat setempat sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Papua.
Sektor sosial akan difokuskan pada sistem santunan cepat untuk warga terdampak musibah, sekretariat yang ramah sebagai tempat pengaduan dan tempat istirahat warga dari luar daerah, serta kerja sama penyediaan layanan kesehatan gratis berkala, terutama untuk lansia.
“Saya berharap visi dan program itu menjadikan KKST sebagai tempat bernaung yang hangat bagi warga Sulawesi Tenggara di Papua “Rumah kita, keluh kesah kita, maju kita bersama”, dengan slogan “Hadir untuk Mendengar, Berbuat untuk Warga”, ujar Laode Safaati.
(La Ramah)











