Kepala SMP Pembangunan V Yapis Waena sekaligus mahasiswa program studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih, Irmansyah, S.Pd., Gr. (XTIFA/Istimewa)
Oleh: Irmansyah, S.Pd., Gr
PERKEMBANGAN teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Sekolah tidak lagi hanya menghadapi tantangan rendahnya mutu akademik, tetapi juga ancaman sosial dan psikologis yang masuk melalui ruang digital peserta didik.
Dunia maya yang seharusnya menjadi sarana belajar justru berubah menjadi ruang baru penyebaran kekerasan verbal, perundungan digital, bahkan infiltrasi paham radikalisme terhadap anak-anak usia sekolah.
Fenomena ini bukan lagi sekadar kekhawatiran teoritis. Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror Polri secara resmi mengungkap adanya peningkatan kasus paparan radikalisme pada anak melalui media sosial dan game online.
Dalam rilis resmi tahun 2025, Densus 88 menemukan lebih dari 110 anak dan pelajar di 23 provinsi teridentifikasi terpapar paham radikal melalui media daring, termasuk komunikasi di game online dan media sosial.
Kondisi tersebut juga mulai terlihat di Provinsi Papua. Data Satgaswil Papua Densus 88 AT Polri menunjukkan adanya lonjakan anak yang terpapar radikalisme di Tanah Papua.
Jika pada Desember 2025 hanya ditemukan 2 anak yang terindikasi terpapar paham radikal, maka pada Mei 2026 jumlah tersebut meningkat drastis menjadi 16 anak.
Densus 88 mengungkap bahwa media sosial dan game online menjadi salah satu ruang interaksi yang dimanfaatkan untuk menyusupkan ideologi radikal kepada anak-anak dan remaja.
Meningkatnya angka tersebut menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan di Papua, khususnya Kota Jayapura sebagai pusat perkembangan teknologi dan pendidikan di wilayah timur Indonesia.
Satgaswil Papua Densus 88 bahkan melakukan sosialisasi langsung ke lingkungan Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah, guna memberikan edukasi kepada guru dan kepala sekolah tentang bahaya infiltrasi radikalisme digital terhadap peserta didik.
Yang lebih mengejutkan, aparat menemukan bahwa proses perekrutan dilakukan secara sistematis melalui ruang virtual yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Game seperti Roblox, Free Fire, Mobile Legends dan Minecraft menjadi bagian dari ruang interaksi digital yang rentan dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan propaganda ekstrem secara terselubung.
Kepala BNPT RI bahkan menyebut sepanjang tahun 2025 terdapat 112 anak yang terpapar radikalisme melalui media sosial dan game online.
Densus 88 juga mengungkap adanya tren baru yang sangat mengkhawatirkan, yakni perekrutan anak usia 10 hingga 18 tahun melalui komunikasi grup daring dan platform digital.
Di sisi lain, ancaman narkoba di Papua juga semakin memprihatinkan. Badan Narkotika Nasional Provinsi Papua mencatat sepanjang tahun 2025, terdapat puluhan kasus penyalahgunaan narkotika yang ditangani melalui pendekatan rehabilitasi dan pencegahan sosial.
BNN Papua menyebutkan sebanyak 96 klien penyalahguna narkoba telah direhabilitasi sepanjang tahun 2025, bahkan melampaui target nasional rehabilitasi rawat jalan yang ditetapkan pemerintah pusat.
Data tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap generasi muda Papua tidak lagi hanya datang dari lingkungan sosial secara langsung, tetapi juga melalui teknologi digital yang sulit dikontrol.
Anak-anak sekolah hidup dalam dua dunia sekaligus (dunia nyata dan dunia virtual). Ketika sekolah gagal hadir di ruang virtual itu, maka pihak lain akan mengambil peran memengaruhi pola pikir dan perilaku peserta didik.
Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Kepala sekolah masa kini tidak cukup hanya menjadi pengelola administrasi pendidikan.
Kepala sekolah harus hadir sebagai pemimpin pembelajaran yang visioner, tanggap terhadap perubahan sosial, dan mampu membaca ancaman zaman.
Kepemimpinan pembelajaran pada era digital menuntut kepala sekolah untuk memastikan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada perlindungan karakter, mental, dan moral peserta didik.
Sekolah harus menjadi benteng yang mampu menyaring pengaruh negatif digital tanpa mematikan kreativitas generasi muda.
Namun, tantangan tersebut tidak mungkin dihadapi sendiri oleh kepala sekolah. Dibutuhkan integrasi kuat dengan layanan bimbingan dan konseling berbasis digital yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Selama ini, guru BK (Bimbingan Konseling) sering dipandang hanya sebagai penangani siswa bermasalah. Padahal dalam era digital, guru BK seharusnya menjadi garda terdepan dalam deteksi dini perubahan perilaku peserta didik.
Guru BK harus mampu membaca tanda-tanda depresi, kecanduan digital, cyberbullying, isolasi sosial, hingga indikasi paparan radikalisme dan narkoba.
Ironisnya, banyak layanan BK di sekolah masih berjalan secara konvensional. Pendekatan yang menunggu murid datang ke ruang BK sudah tidak cukup menghadapi dinamika kehidupan digital yang bergerak sangat cepat.
Banyak peserta didik justru lebih aktif mengungkapkan tekanan emosional mereka di media sosial dibandingkan di lingkungan sekolah. Karena itu, layanan BK harus bertransformasi menjadi layanan berbasis digital yang responsif, preventif, dan humanis.
Sekolah dapat membangun sistem konsultasi online, layanan pengaduan bullying digital, pemantauan kesehatan mental peserta didik, hingga edukasi literasi digital secara berkala kepada siswa dan orang tua.
Lebih jauh lagi, kepala sekolah harus mampu membangun budaya sekolah yang aman secara psikologis. Sebab banyak kasus bullying terjadi karena sekolah gagal menciptakan ruang sosial yang sehat bagi peserta didik.
Ketika murid merasa takut, tertekan, dan tidak didengar, mereka akan mencari pelarian di dunia maya yang justru membuka ruang terhadap pengaruh negatif. Sekolah tidak boleh kalah cepat dari perkembangan teknologi.
Jika dunia digital mampu merekrut dan memengaruhi anak-anak secara sistematis, maka sekolah juga harus hadir secara sistematis dalam membangun karakter dan ketahanan mental peserta didik.
Inilah wajah baru tantangan pendidikan Indonesia, termasuk di Papua. Khusunya di Kota Jayapura, ancaman terhadap generasi muda tidak lagi datang dengan wajah kasar dan terang-terangan.
Ia hadir diam-diam melalui layar ponsel, percakapan virtual, game online, dan media sosial yang setiap hari berada di genggaman anak-anak sekolah. Karena itu, keberhasilan pendidikan hari ini tidak lagi hanya diukur dari nilai ujian atau angka kelulusan.
Keberhasilan pendidikan sejati adalah ketika sekolah mampu melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, sehat secara mental, dan mampu bertahan di tengah arus digital yang semakin liar dan kompleks.
(Penulis adalah Kepala SMP Pembangunan V Yapis Waena, saat ini menempuh pendidikan program studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih)











