Ringkasan Berita
• Penyelamatan Bahasa Port Numbay (Kota Jayapura) menjadi motivasi utama karena generasi muda beralih ke bahasa nasional/asing, berisiko mengikis identitas lokal.
• Mewariskan tradisi lisan menjadikan sastra sebagai ruang nyata untuk mempraktikkan dan mewariskan cerita rakyat, sejarah, dan kekayaan budaya melalui seni kontemporer (musik dan panggung).
• Mendapat fasilitasi dan apresiasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
UPAYA menghidupkan bahasa Port Numbay (Kota Jayapura) digaungkan lewat sastra dalam festival musikalisasi puisi tingkat SMA se-Kota Jayapura yang digelar di Auditorium FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen), Kamis, 27 Agustus 2026.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari, dari 27 s.d 29 Agustus 2026, dengan tema “Gema Port Numbay: Menyanyikan puisi, menghidupkan budaya sastra”.
Festival ini diikuti 100 murid SMA dari berbagai sekolah di Kota Jayapura. Para peserta membawakan puisi yang mengangkat cerita rakyat, sejarah, dan kekayaan budaya, lalu mengolahnya menjadi karya musik dan pertunjukan panggung.

Pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kasih sekaligus pemrakarsa kegiatan, Sri Kurnawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan ajang ini menjadi ruang nyata untuk mempraktikkan dan mewariskan tradisi lisan melalui bentuk-bentuk seni kontemporer.
Selain itu, festival mendapat fasilitasi dan apresiasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dukungan tersebut, lanjut Sri, penting untuk memberi peluang bagi komunitas sastra lokal menunjukkan kemampuan mereka serta memperluas jangkauan literasi bahasa daerah.
Sekaligus ruang pembelajaran, pengembangan, dan apresiasi bagi generasi muda dalam bidang sastra, khususnya dalam mengolah tradisi lisan menjadi karya tulis, karya musik, dan karya pertunjukan.
“Sastra bukan hanya milik penyair. Sastra bukan hanya milik akademisi. Sastra juga bukan hanya milik mereka yang terbiasa menulis. Sastra adalah milik kita semua,” ujar Sri.
Sri menambahkan, selain kompetisi, rangkaian festival menghadirkan lokakarya singkat tentang penulisan kreatif dan teknik musikalisasi puisi, serta diskusi panel antara pelajar, guru, dan praktisi kebudayaan.
Selain itu, narasumber memberikan panduan praktis untuk mentransformasi tradisi lisan, seperti dongeng, legenda, dan nyanyian lokal menjadi teks tertulis yang menarik dan mudah dipertunjukkan.
“Pelajar, pemuda, dan anak Papua khususnya di Kota Jayapura memiliki hak dan tanggung jawab untuk menulis tentang mimpi, tanah kelahiran, dan cita-cita mereka,” ujar Sri.
Dekan FKIP Uncen, Dr. Yan Dirk Wabiser, S.Pd., M.Hum., mengatakan penyelamatan bahasa Port Numbay menjadi salah satu motivasi utama penyelenggaraan festival.
Menurut Dr. Yan, kecenderungan generasi muda untuk beralih ke bahasa nasional dan bahasa asing berisiko mengikis warisan linguistik dan identitas lokal.
“Kami berupaya menyelamatkan yang tersisa agar generasi tidak lupa. Mengangkat identitas agar tidak hilang. Upaya kami saat ini memprakarsai kampung cerdas untuk menyelamatkan yang tersisa,” ujar Dr. Yan.
Dr. Yan berharap musikalisasi puisi efektif menyampaikan pesan moral dan identitas budaya secara atraktif bagi pelajar.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum., mengapresiasi pelaksanaan festival musikalisasi puisi, dengan harapan dapat meningkatkan literasi bahasa daerah.
“Dengan kegiatan yang melibatkan generasi muda, kami optimis kemampuan berbahasa daerah dan minat menulis akan meningkat,” ujar Valentina.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd., mendorong agar setiap peserta dan sekolah memanfaatkan puisi sebagai media edukasi moral di lingkungan pendidikan.
“Saya harap ada puisi yang merangsang untuk menyampaikan pesan moral positif. Lewat puisi tidak ada lagi hal-hal yang melanggar aturan sekolah. Saya juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai positif melalui karya sastra,” ujar Rocky.
Rocky menambahkan, festival ini tidak hanya menjadi acara tahunan, tetapi juga pemicu lahirnya komunitas sastra yang berkelanjutan di kota.
Sehingga, mampu mengarsipkan guna memperlambat laju pelupaan bahasa Port Numbay dan memperkaya lanskap kebudayaan Kota Jayapura melalui karya-karya sastra yang lahir dari akar tradisi lokal.
(La Ramah)











