Ringkasan Berita
• Pelatihan kader kusta oleh LKC Dompet Dhuafa Papua merupakan upaya penguatan deteksi dini, pendampingan pasien, pencegahan stigma, dan perluasan sosialisasi.
• Tercatat 234 kasus kusta baru. Sebanyak 563 orang tercatat sudah minum obat (329 laki-laki, 324 perempuan, dan 106 anak-anak telah menerima pengobatan).
• Pendidikan masyarakat dan peran kader penting agar pasien mau memeriksakan diri dan rutin minum obat, dengan dukungan lintas sektor serta target eliminasi kusta pada 2027.
LAYANAN Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua, melatih kader kusta sebagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pencegahan stigma terhadap penderita kusta.
Kegiatan ini berlangsung dua hari, 23 s.d 24 September 2026, di ruang pertemuan Cafe Ropopang, Kota Jayapura, diikuti 15 kader berasal dari tiga puskesmas, yaitu Puskesmas Abepura, Puskesmas Hamadi, dan Puskesmas Jayapura Utara.
Materi yang disampaikan meliputi tata cara pelaporan kasus, komunikasi efektif, pencegahan stigma, dan strategi peningkatan sosialisasi kepada masyarakat.
Narasumber utama dari Puskesmas Hamadi, Dorkas Elly, menyampaikan pentingnya pendampingan pasien dan komunikasi yang tepat agar pasien tidak merasa dikucilkan.
“Pendidikan masyarakat dan peran kader sangat penting untuk memastikan pasien memeriksakan diri dan rutin minum obat,” ujar Dorkas.
Dorkas menambahkan, hingga September 2026, tercatat 234 kasus kusta baru.
Sejauh ini sebanyak 563 orang tercatat sudah minum obat, rincian menurut data menunjukkan 329 laki-laki, 324 perempuan, dan 106 anak-anak yang telah menerima pengobatan.
Meski demikian, masih ada 50 orang yang baru datang berobat pada periode terakhir, sementara sebagian pasien lain tidak melanjutkan pengobatan atau berpindah daerah sehingga pengobatan terhenti.
“Kusta bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan berkelanjutan,” ujar Dorkas.
Kepala LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, S.Si., M.Pd., mengatakan pelatihan merupakan bagian dari strategi memperkuat kerja sama dengan puskesmas dan memperluas jangkauan sosialisasi.
Ia juga mengatakan, peserta dipilih karena tingginya jumlah kasus kusta di wilayah kerja Puskesmas Abepura, Puskesmas Hamadi, dan Puskesmas Jayapura Utara.
Tumijan menambahkan, kalam kegiatan ini juga dilakukan layanan layangan kesehatan dan pemberian makanan tambahan untuk pasien dan keluarga yang membutuhkan.
Sebanyak 195 orang menerima pemberian makanan tambahan yang disalurkan melalui tiga puskesmas mitra.
“Keberhasilan program membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, agar stigma dapat dihapus dan pasien mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan,” ujar Tumijan.
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari, mengimbau masyarakat agar aktif memeriksakan diri bila menemukan gejala.
Ia menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan serta dukungan keluarga agar pasien tidak mengalami diskriminasi.
“Ditargetkan pada 2027 tidak ada lagi kasus kusta melalui peningkatan deteksi dini, kepatuhan berobat, dan sosialisasi yang masif,” ujar Antari.
(La Ramah)











