Ringkasan Berita
• Membekali guru dengan keterampilan observasi dan langkah awal penanganan, bukan untuk mendiagnosis secara klinis.
• Meningkatkan kepekaan guru terhadap tanda-tanda perkembangan yang perlu diwaspadai.
• Larangan keras memberikan stigma atau label negatif pada anak.
DOSEN program studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih (Uncen) menggelar pelatihan “Deteksi Dini dan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Inklusif” di TK Kemala Bhayangkari 04 Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dosen Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Uncen, menargetkan peningkatan kapasitas guru PAUD/TK/RA dalam mendeteksi dan penanganan awal terhadap anak berkebutuhan khusus, sekaligus penguatan layanan pendidikan inklusif di Papua.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber, Sally Putri Karisma, S.Pd., M.Pd.Kons., didampingi Rr. Retno Handasah, S.Psi., Psikolog, yang dihadiri jajaran guru dan kepala PAUD/TK/RA Kabupaten Jayapura, mahasiswa PPL PAUD FKIP Uncen, dan pengurus Bhayangkari Cabang Jayapura.
Kesempatan tersebut, Sally menekankan tujuan pelatihan bukan untuk mendorong guru melakukan diagnosis klinis, melainkan membekali mereka dengan keterampilan observasi dan langkah awal penanganan yang tepat di lingkungan PAUD.
“Sasaran kami adalah meningkatkan kepekaan guru terhadap tanda-tanda perkembangan yang perlu diwaspadai, kemampuan melakukan skrining sederhana, mendokumentasikan hasil pengamatan, serta berkomunikasi efektif dengan orang tua dan tenaga profesional,” ujar Sally.
Selain itu, guru juga diberikan strategi adaptasi pembelajaran agar setiap anak tetap menerima layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya tanpa mengalami stigmatisasi.
Sally juga menggarisbawahi prinsip penting dalam pendekatan inklusif, yakin setiap anak memiliki potensi yang perlu dikenali sedini mungkin.
“Yang perlu dilakukan adalah mengenali kebutuhan sedini mungkin, memberikan dukungan yang sesuai, dan tidak memberikan stigma atau label pada anak,” ujar Sally.
Sally berharap, metode pelatihan yang memadukan teori perkembangan anak dengan praktik observasi terstruktur dan simulasi komunikasi dengan orang tua.
Kepala TK Kemala Bhayangkari 04 Sentani, Herna, S.Pd., mengatakan materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi di lapangan karena guru-guru PAUD sering menjadi pihak pertama yang mengamati perkembangan anak.
Herna berharap hasil pelatihan dapat segera diterapkan dalam rutinitas kelas untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan deteksi kebutuhan khusus di tahap awal.
“Saya berharap guru-guru di sini semakin peka dan percaya diri saat menghadapi kasus anak yang memerlukan perhatian khusus. Dengan pengetahuan yang tepat, komunikasi dengan orang tua menjadi lebih terarah dan kolaborasi dengan profesional kesehatan atau psikologi dapat dibangun lebih mudah,” ujar Herna.
Salah satu peserta, Mayastri Adriana Bawan, S.Pd.Gr, yang menjabat Kepala TK Kristen Permata, mengatakan pelatihan memberikan wawasan praktis yang langsung bisa diterapkan.
Mayastri mengaku mendapatkan banyak teknik observasi dan contoh format pendokumentasian yang memudahkan tindak lanjut terhadap anak yang dicurigai mengalami keterlambatan perkembangan atau kebutuhan khusus.
Mayastri berharap pelatihan ini menjadi awal dari program pembinaan berkelanjutan antara kampus dan satuan PAUD di Kabupaten Jayapura.
Ia juga mengusulkan adanya modul lanjutan yang melibatkan orang tua lebih intensif serta sesi rujukan yang menghadirkan layanan kesehatan anak dan psikolog secara berkala.
“Dengan mengangkat tema deteksi dini dan penanganan tanpa stigma, pelatihan berpotensi meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di tingkat paling awal, sehingga mereka memperoleh kesempatan berkembang sesuai potensinya,” ujar Mayastri.
(La Ramah)











