Ringkasan Berita
• Meningkatkan kapasitas SDM pariwisata dan ekonomi kreatif.
• Terciptanya destinasi wisata unggulan di Kota Jayapura.
• Menjaga kebersihan, keamanan, dan memanfaatkan digitalisasi untuk promosi budaya dan kuliner Port Numbay.
PEMERINTAH Kota Jayapura melalui Dinas Pariwisata menggelar pelatihan Tata Kelola Objek Wisata Berbasis Masyarakat Lokal.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 19 s.d 21 Mei 2026, bertempat di Ballroom Hotel Best Western Sagita Jayapura, ini menjadi langkah strategis menggeser paradigma pengelolaan wisata dari tradisional menuju pendekatan modern sekaligus berkelanjutan.
Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Richard J. Nahumury, S.IP., M.Si, mengatakan pelatihan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Sasaran utamanya adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengelola kampung wisata, pelaku UMKM lokal, serta masyarakat kampung adat di Kota Jayapura.
“Mereka mampu mengelola destinasi secara mandiri, profesional, dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga setempat, namun tetap berbasis pada kearifan lokal. Masyarakat harus menjadi subjek utama, bukan hanya objek pembangunan pariwisata,” ujar Richard, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia juga mengatakan, pelatihan ini merupakan respons terhadap kebutuhan peningkatan kualitas pengelolaan objek wisata, sehingga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan pariwisata, menciptakan destinasi yang bersih, aman, menarik, dan berkelanjutan.
Serta, mengembangkan ekonomi kreatif dan UMKM berbasis budaya lokal, khususnya di kawasan Port Numbay (Kota Jayapura), sehingga menjadi pilar baru pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berpihak pada masyarakat lokal.
Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat kelembagaan pengelola wisata di setiap kampung, dengan target terbentuknya pengelola wisata yang profesional, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, bertambahnya pendapatan masyarakat lokal, dan terciptanya destinasi wisata unggulan di Kota Jayapura.
“Pelatihan ini diikuti 25 orang peserta yang berasal dari perwakilan 10 kampung adat di Kota Jayapura, para pemilik objek wisata, serta pelaku UMKM. Jumlah peserta yang terbatas dipilih untuk memastikan efektivitas pendampingan dan transfer pengetahuan,” ujar Richard.
Selama tiga hari, lanjut Richard, peserta dibekali berbagai materi kunci, seperti konsep pariwisata berkelanjutan, pengembangan usaha objek wisata, pemasaran digital dan branding, tata kelola objek wisata yang baik, serta pengembangan produk wisata kuliner khas daerah.
Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H, berharap ilmu yang didapatkan selama pelatihan dapat segera diaplikasikan di lapangan, karena metode pelatihan dilakukan secara interaktif dengan menggabungkan teori, diskusi, dan simulasi praktis.
“Saya berharap para peserta serius mengikuti pelatihan ini. Karena setelah ini, kalian adalah ujung tombak kemajuan pariwisata di kampung masing-masing. Kelola wisata dengan baik, jaga kebersihan dan keamanan, serta manfaatkan digitalisasi untuk mempromosikan keunikan budaya dan kuliner Port Numbay,” ujar wali kota.
(La Ramah)











