Ringkaskan Berita
• Kegiatan bersifat edukatif dan rekreatif, memadukan pembelajaran ala Montessori dengan budaya dan permainan tradisional, sehingga murid siap secara holistik, akademik, fokus, dan mandiri saat masuk SD.
• Berfokus pada pengalaman eksplorasi anak yang aman dan menyenangkan. Orang tua diajak bernostalgia dan memahami pendekatan Montessori.
• Momen perkenalan gedung baru PMA Holtekamp kepada masyarakat. Gedung baru mendukung program pendidikan anak yang lebih beragam dan intensif.
PAPUA Montessori Academy (PMA) Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, menggelar “Festival Basudara Nusantara“, Sabtu, 12 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada 11 s.d 12 September 2026, dirancang sebagai kegiatan edukatif dan rekreatif untuk anak-anak usia 10 bulan hingga 10 tahun.
Festival dua hari ini memadukan kegiatan belajar ala Montessori dengan sentuhan budaya dan permainan tradisional, sekaligus menjadi momen perkenalan gedung baru PMA Holtekamp kepada masyarakat.

Ketua panitia, Zulfa Zanjabil Kastury, mengatakan festival ini berfokus pada pengalaman eksplorasi bagi anak-anak dengan keterlibatan langsung orang tua.
“Kami ingin menciptakan suasana di mana anak-anak dapat mengeksplorasi aktivitas sehari-hari secara aman dan menyenangkan, sementara orang tua diajak bernostalgia dan memahami pendekatan pembelajaran Montessori,” ujar Zulfa.
Zulfa menjelaskan rangkaian kegiatan di Festival Basudara Nusantara dirancang untuk merangsang aspek perkembangan anak secara holistik.
Zona sensorial menghadirkan alat dan bahan yang merangsang pancaindra, sementara area practical life menuntun anak pada keterampilan sehari-hari seperti menuang, menyusun, dan merapikan.
Area bahasa dan matematika memberikan stimulasi awal lewat permainan yang menyenangkan, sedangkan sesi seni dan face painting menjadi favorit yang mengundang tawa dan kreativitas.
Selain itu, festival mengangkat permainan tradisional nusantara untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Aktivitas seperti lompat tali, congklak, dan permainan tradisional lainnya dikemas sedemikian rupa agar aman dan mudah diikuti anak-anak.
Panitia juga menyediakan sesi sensory play yang memungkinkan anak mengeksplorasi tekstur, warna, dan bentuk melalui media yang aman.
Selain menemani anak, orang tua berkesempatan belajar langsung tentang metode Montessori dan cara menerapkannya di rumah.
Sesi demo dan tanya jawab dengan tenaga pengajar PMA disediakan untuk memberi wawasan praktis tentang mendukung perkembangan kemandirian dan rasa ingin tahu anak.

Pendiri Papua Montessori Academy, Lydia Agustin, S.A.B., M.Pd., Dipl.Mont., kombinasi edukasi, hiburan, dan pelestarian budaya pada festival ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.
Selain itu, festival ini merupakan perwujudan prinsip pendidikan Montessori yang menekankan kebebasan anak untuk memilih materi yang diminati.
“Keunggulan PMA terletak pada metode yang mengintegrasikan berbagai area pembelajaran, seperti sensori, praktikal life, bahasa, seni, dan matematika sehingga anak belajar sesuai ritme dan minatnya,” ujar Lydia.
Festival ini juga, lanjut Lydia menjadi ajang perkenalan gedung baru PMA Holtekamp kepada masyarakat Kota Jayapura dan sekitarnya.
Fasilitas yang lebih luas dan terorganisir, menurutnya, mendukung pelaksanaan program-program pendidikan anak yang lebih beragam dan intensif.
“Kami berharap ruang baru ini dapat menjadi tempat belajar yang hangat dan menyenangkan bagi anak-anak Papua,” ujar Lydia.
Lydia menambahkan PMA menawarkan program untuk berbagai kelompok umur, mulai Toddler (1,5–2 tahun), Non-Formal (2–4 tahun), hingga TK Montessori (4–7 tahun), dengan opsi jadwal Non-Formal (90 menit per sesi, 10 kali sebulan) dan Formal (3,5 jam per hari, Senin–Jumat).
Keunggulan lainnya Papua Montessori Akademy adalah metode Montessori berstandar internasional, yakni pembelajaran berpusat pada anak dan berbasis aktivitas langsung (learning by doing) untuk mengembangkan kemandirian, kreativitas, konsentrasi, serta fondasi kognitif, emosional, dan sosial.
Selain aspek akademik, sekolah sangat menekankan pembentukan soft skills dan akhlak mulia, memadukan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dengan pembangunan karakter yang kuat.
Serta, ruang kelas dan area dapur khusus untuk menunjang pembelajaran life skill yang kontekstual, guru-guru yang berpengalaman dan memiliki kompetensi khusus di bidang Montessori sebagai fasilitator yang membimbing, bukan sekadar mengajar.
“Kami menargetkan murid untuk siap secara holistik (akademik, fokus, dan mandiri) saat memasuki jenjang SD, serta menjadi katalis peningkatan mutu pendidikan usia dini di Kota Jayapura,” ujar Lydia.
(La Ramah)











