Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd., pada kegiatan workshop inovasi dan manajemen sekolah bagi Kepala SMA/SMK, Kamis, 30 Juli 2026. (XTIFA/La Ramah)
Ringkasan Berita
• 38 kepala sekolah tingkat SMA dan SMK di Kota Jayapura menjadi peserta kegiatan. Kegiatan berupa workshop inovasi dan manajemen sekolah.
• Urgensi transparansi dalam pengelolaan, akuntabilitas, dan efektivitas dana Bantuan Operasional Sekolah.
• Praktik baik yang menjadi perhatian, seperti pengadaan perangkat laboratorium sederhana dan program remedial berbasis penguatan literasi dan numerasi.
SEBANYAK 38 kepala sekolah tingkat SMA dan SMK di Kota Jayapura, Papua, mengikuti workshop inovasi dan manajemen sekolah yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura (Bidang SMA/SMK) di Ruang Serba Guna SMK Negeri 3 Teknologi dan Rekayasa, Kamis, 30 Juli 2026.
Kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd., menekankan urgensi transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk memastikan setiap rupiah memberi dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
“Saya menegaskan agar pengelolaan Dana BOS wajib dilakukan secara transparan, akuntabel, dan benar-benar tepat sasaran. Setiap rupiah yang dikelola harus berorientasi penuh pada peningkatan mutu proses memuliakan murid dan kebutuhan nyata para murid di kelas. Stop program yang tidak berdampak langsung pada kualitas lulusan. Kita harus pastikan investasi pendidikan ini melahirkan generasi emas Papua yang cerdas, kompeten, dan siap bersaing,” ujar Rocky ditemui SMPN 9 Jayapura.
Menurut Rocky, kendala praktis dalam pengelolaan BOS, antara lain keterbatasan kapasitas staf administrasi, tantangan dokumentasi di sekolah dengan akses internet terbatas, serta prioritas kebutuhan yang bersaing di tingkat sekolah.
Untuk itu, kepala sekolah didorong agar menilai efektivitas setiap program berdasarkan data capaian belajar, bukan sekadar anggaran yang tersalurkan.
Sehingga, proses memuliakan murid di SMA dan SMK semakin relevan dengan kebutuhan lokal dan mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.
“Saya mengingatkan kembali agar setiap inisiatif yang direncanakan kepala sekolah harus memiliki indikator keberhasilan dan bukti berdampak terhadap mutu lulusan,” ujar Rocky.
Rocky menambahkan, workshop inovasi dan manajemen sekolah yang berlangsung pada 29 s.d 30 Juli, menghadirkan narasumber dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua, dan difokuskan pada peningkatan kapasitas kepemimpinan sekolah serta tata kelola keuangan pendidikan.
Termasuk memaparkan langkah-langkah konkret seperti pembagian tugas administrasi yang jelas, pelatihan rutin untuk staf, serta penggunaan template laporan yang sederhana dan efisien.
Salah satu materi menekankan pentingnya audit internal dan dokumentasi yang rapi agar penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tua murid dan publik.
Peserta juga diajak berdiskusi mengenai inovasi pembelajaran yang memanfaatkan sumber daya lokal serta kolaborasi dengan pemangku kepentingan setempat.
Mereka mengikuti sesi yang dirancang untuk membekali pemimpin sekolah dengan strategi inovatif dalam manajemen kurikulum, pembelajaran, serta praktik anggaran yang sesuai dengan ketentuan penggunaan dana BOS.
Materi meliputi perencanaan program berbasis bukti, mekanisme pelaporan keuangan, serta indikator kinerja sekolah yang berorientasi pada capaian belajar murid.
“Workshop ini juga menjadi wadah berbagi praktik baik antar kepala sekolah. Contoh-contoh penggunaan dana yang berhasil meningkatkan mutu, misalnya pengadaan perangkat laboratorium sederhana untuk praktik kejuruan dan program remedial berfokus pada penguatan literasi dan numerasi, menjadi perhatian,” ujar Rocky.
Rocky berharap, Kepala SMA/SMK menerapkan manajemen sekolah yang lebih profesional dan berorientasi hasil, sehingga meningkatkan kapasitas manajerial kepala sekolah dan menegakkan tata kelola BOS yang baik.
(La Ramah)











