Ringkasan Berita
• Musda mendorong sinergi antara seniman, sektor pariwisata, dan ekonomi kreatif agar karya budaya menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
• Musda mengevaluasi program kerja 2020–2025, merumuskan prioritas program 2026–2031, dan memilih ketua Dewan Kesenian Kota Jayapura periode berikutnya.
• Agar seniman mendapat akses, perlindungan, dan peluang ekonomi dari karya, serta mendorong integrasi program budaya dalam kebijakan pembangunan daerah.
MUSYAWARAH Daerah (Musda) ke-VI Dewan Kesenian Tanah Papua Wilayah Budaya Tabi Kota Jayapura menegaskan komitmen pelestarian budaya dan penguatan seni tradisional sebagai bagian dari pembangunan kota.
Musda yang berlangsung di Hotel Horison Kotaraja, Selasa, 27 Oktober 2026, mengevaluasi program kerja 2020-2025 dan merumuskan prioritas program 2026-2031, sekaligus memilih ketua Dewan Kesenian Kota Jayapura periode berikutnya.
Peserta meliputi perwakilan sanggar seni, pengurus Dewan Kesenian Papua dan Kota Jayapura, pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerhati budaya.
Ketua panitia, Matias B. Mano, S.Par., M.KP, mengatakan forum ini perlu melihat (program) yang sudah berjalan, belum tercapai, lalu menyusun langkah konkret agar sistem budaya daerah berjalan berkelanjutan.
Salah satu fokus utama Musda adalah membangun sistem budaya daerah yang berkelanjutan melalui langkah-langkah praktis.
Rencana program kerja yang mengemuka meliputi pendataan seniman, pembentukan forum komunikasi seniman aktif.
Serta, pembukaan ruang kesenian di kampung-kampung, penyusunan kalender kesenian tahunan, serta penguatan kerja sama dengan pemerintah daerah.

Tujuannya memastikan seniman mendapat akses, perlindungan, dan peluang ekonomi dari karya, sekaligus mendorong integrasi program budaya dalam kebijakan pembangunan daerah.
Matia Mano yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Masyarakat Adat & Budaya Provinsi Papua, berharap pemeliharaan nilai-nilai tradisi dan pemajuan seni lokal.
Ketua Dewan Kesenian Kota Jayapura periode 2020–2025, Dr. Benhur Tomi Mano, M.M., menegaskan organisasi membutuhkan proses regenerasi dan peran generasi muda untuk menjaga kesinambungan kultural.
“Generasi muda harus diperkenalkan lebih awal kepada warisan budaya kita agar tidak hilang di tengah arus modernisasi,” ujar Tomi Mano.
Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H, menegaskan pembangunan kota tidak boleh mengorbankan identitas dan kebudayaan.
Untuk itu, seluruh pemangku kepentingan diajak menciptakan ruang agar seni tradisional hidup berdampingan dengan modernitas.
“Kesenian Papua khususnya wilayah Tabi tidak hanya terjaga sebagai warisan, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang memperkaya kehidupan Kota Jayapura,” ujar wali kota.
Musda VI juga mendorong sinergi antara seniman, sektor pariwisata, dan ekonomi kreatif agar karya budaya dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
(La Ramah)











