Ringkasan Berita
• Perkuat daya saing nelayan Orang Asli Papua (OAP) melalui Bimtek Sertifikasi Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) di Atas Kapal.
• Kota Jayapura memiliki komoditas unggulan tuna, tongkol, cakalang (TTC), namun nilai jualnya bergantung pada penanganan pasca-tangkap di atas kapal.
• Fokus CPIB Kapal adalah disiplin kebersihan kapal, sanitasi peralatan, pengendalian suhu rantai dingin, dan pembongkaran ikan secara higienis.
PEMERINTAH Kota Jayapura terus berkomitmen memperkuat daya saing nelayan Orang Asli Papua (OAP).
Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menggelar bimbingan teknis (Bimtek) Sertifikasi Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) di Atas Kapal.
Kegiatan yang dibiayai menggunakan dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun Anggaran 2026 ini berlangsung selama dua hari, dari Rabu hingga Kamis, 14 s.d 15 Oktober 2026.
Sebanyak 66 nelayan OAP berpartisipasi dalam pelatihan ini. Mereka terdiri dari 43 nelayan asal Distrik Jayapura Utara dan 23 nelayan dari Distrik Jayapura Selatan.
Pelatihan dilaksanakan di dua lokasi strategis, yakni kawasan belakang Rusunawa Pasar Inpres Dok IX, Tanjung Ria, serta Hotel Ultima Entrop, Distrik Jayapura Selatan.
Acara ini resmi dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura, Matheys Sibi, S.ST.Pi., M.Si., yang hadir mewakili Wali Kota Jayapura.
Dalam arahannya, Matheys Sibi menekankan bahwa Kota Jayapura dianugerahi potensi komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi, seperti tuna, tongkol, dan cakalang (TTC).
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa nilai jual komoditas tersebut sangat bergantung pada proses penanganan pasca-tangkap di atas kapal, bukan sekadar jumlahnya.
“Keterlambatan pendinginan, kurangnya es, peralatan tidak bersih, dan penanganan tidak higienis akan mempercepat penurunan mutu. Karena itu CPIB di atas kapal sangat penting,” ujar Matheys.

Melalui penerapan CPIB, para nelayan dilatih untuk disiplin menjaga kebersihan kapal, menerapkan sanitasi peralatan, mengendalikan suhu rantai dingin, hingga melakukan pembongkaran ikan secara higienis.
Upaya ini dilakukan agar kesegaran ikan tetap optimal sebelum didistribusikan ke pendaratan ikan, pedagang, maupun unit pengolahan.
Penggunaan Dana Otsus dalam program ini memang sengaja diarahkan untuk menaikkan kompetensi masyarakat asli Papua di sektor hulu perikanan.
Harapannya, nelayan OAP konsisten menghasilkan bahan baku standar pasar sehingga pintu kemitraan usaha dengan pembeli skala besar dan Unit Pengolahan Ikan (UPI) terbuka lebar.
Selama pelatihan, para nelayan dibekali empat materi utama dari para instruktur kompeten asal Dinas Perikanan Kota Jayapura, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Ambon, serta Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan.
Materi antara lain kebijakan pembangunan perikanan tangkap Kota Jayapura, sanitasi dan higiene kapal perikanan, praktik rantai dingin dan penilaian mutu secara organoleptik, dan prosedur pengajuan serta pemeriksaan sertifikasi CPIB Kapal.
Pihak Dinas Perikanan menegaskan bahwa Bimtek ini merupakan langkah awal pengenalan dokumen dan mekanisme verifikasi lapangan, bukan pemberian sertifikat otomatis.
Penerbitan sertifikasi resmi nantinya memerlukan kesiapan sarana fisik serta konsistensi penerapan nyata dari para nelayan saat melaut.
Penerapan CPIB Kapal ini menjadi fondasi mutu di sektor hulu. Pemkot Jayapura berkomitmen akan melakukan pemetaan dan pendampingan lanjutan pasca-pelatihan agar pengetahuan para nelayan dapat diterapkan secara berkelanjutan, sekaligus mempersiapkan mereka menembus pasar yang lebih luas hingga ke tingkat ekspor.
(QB)











