Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd., menyampaikan sambutan pada pembukaan In House Training SMPN 9 Jayapura tahun ajaran 2026/2027, Kamis, 30 Juli 2026. (XTIFA/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Target akhir IHT adalah melahirkan inovasi pembelajaran, perangkat ajar berkualitas, serta komitmen bersama mewujudkan sekolah unggul, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan.
• Rapor Pendidikan Tahun 2025 dijadikan sebagai kompas (bukan alat mencari kesalahan) untuk menyusun langkah perbaikan yang terarah dan berkelanjutan.
• Perlu penguatan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran mendalam (deep learning), pembelajaran berdiferensiasi, asesmen yang bermakna, peningkatan kompetensi guru di bidang teknologi digital dan inovasi pembelajaran.
SEKOLAH Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, mengadakan In House Training (IHT) tahun ajaran 2026/2027, Kamis, 30 Juli 2026.
Kegiatan dengan tema “Mewujudkan pendidik yang peduli dan profesional”, berlangsung di aula sekolah selama dua hari, dari 30 s.d 31 Juli 2026, dihadiri seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.
Kepala SMPN 9 Jayapura, Panjaitan, S.Pd.I., M.Pd., menegaskan IHT menjadi momentum refleksi dan transformasi kualitas pendidikan di sekolah.
Menurutnya, evaluasi yang jujur terhadap kondisi sekolah perlu dilakukan dengan merujuk pada Rapor Pendidikan 2025 sebagai dasar menyusun langkah perbaikan yang terarah dan berkelanjutan.
“Rapor Pendidikan bukan alat untuk mencari kesalahan, melainkan kompas yang menunjukkan arah perbaikan,” ujar Panjaitan.
Ia juga menyoroti sejumlah indikator dalam rapor yang memerlukan perhatian. Di antaranya peningkatan kompetensi literasi dan numerasi murid yang belum mencapai target optimal.
Serta, perlunya penguatan kualitas proses pembelajaran yang mengedepankan pembelajaran mendalam (deep learning), pembelajaran berdiferensiasi, dan asesmen yang bermakna.
Selain aspek akademik, Panjaitan juga menekankan pentingnya penguatan karakter murid sesuai Profil Pelajar Pancasila serta optimalisasi pemanfaatan hasil asesmen untuk memperbaiki praktik pembelajaran.
Selain itu, pengembangan kompetensi guru dalam pemanfaatan teknologi digital dan inovasi pembelajaran, serta penguatan budaya refleksi, kolaborasi, dan pembelajaran profesional di lingkungan sekolah juga menjadi prioritas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjut Panjaitan, sekolah merumuskan beberapa strategi utama.
Pertama, peningkatan kualitas pembelajaran di kelas melalui penerapan metode pembelajaran aktif, menyenangkan, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Kedua, memperkuat Gerakan Literasi dan Numerasi Sekolah sebagai budaya melalui pembiasaan harian dan integrasi lintas mata pelajaran.
Ketiga, penguatan komunitas belajar guru yang mendorong berbagi praktik baik melalui diskusi rutin, lesson study, supervisi akademik, dan refleksi pembelajaran.
Keempat, pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan melalui IHT, workshop, pelatihan mandiri, dan pemanfaatan platform belajar seperti Rumah Pendidikan.
Kelima, optimalisasi pemanfaatan data; setiap program sekolah harus berbasis Rapor Pendidikan, hasil asesmen, dan evaluasi pembelajaran agar keputusan lebih tepat sasaran.
Pendidikan karakter dan budaya positif juga menjadi fokus, dengan upaya membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, disiplin, dan penuh kepedulian agar murid berkembang secara akademik dan karakter.
Selain itu, sekolah berencana meningkatkan kemitraan dengan orang tua dan masyarakat, karena keberhasilan pendidikan dinilai memerlukan sinergi antara sekolah, keluarga, komite sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Saya berharap, IHT melahirkan inovasi pembelajaran dan perangkat ajar yang lebih berkualitas serta komitmen bersama menuju sekolah unggul yang adaptif terhadap perubahan,” ujar Panjaitan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd., mengingatkan pentingnya menyusun perencanaan sesuai petunjuk teknis penggunaan dana dan memastikan materi IHT dibahas dan direncanakan sebaik-baiknya.
Ia juga menekankan profesionalisme guru dalam memperlakukan seluruh siswa secara setara dan menerapkan pembelajaran mendalam sebagai bagian dari perbaikan mutu pendidikan.
“Saya berharap setelah kegiatan ini selesai, akan lahir berbagai inovasi pembelajaran, perangkat ajar yang lebih berkualitas, serta komitmen bersama untuk mewujudkan sekolah yang unggul, berkarakter, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menghasilkan lulusan yang berprestasi,” ujar Rocky.
(La Ramah)











