Pemaparan program kerja wali kelas workshop penguatan ekosistem pendidikan di SMA Negeri 4 Jayapura, Kamis, 16 Juli 2026. (XTIFA/Istimewa)
Ringkasan Berita
• Memastikan kesesuaian (alignment) yang solid antara materi pokok, metode pembelajaran, dan instrumen penilaian agar dokumen pembelajaran berorientasi kompetensi.
• Hari kedua tidak hanya berisi teori, tetapi menekankan pada praktik langsung bagi guru dalam menyusun silabus dan menerapkan teknik pembelajaran mendalam (deep learning) sesuai Kurikulum Merdeka.
• Dalam kerja kelompok, guru secara spesifik melakukan kajian kompetensi inti dan dasar, penyusunan tujuan pembelajaran, penentuan materi pokok, pemilihan metode pembelajaran aktif, serta perancangan teknik penilaian berbasis kompetensi (valid dan autentik).
HARI kedua workshop penguatan ekosistem pendidikan yang digelar SMA Negeri 4 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, menekankan praktik langsung bagi guru dalam menyusun silabus dan menerapkan teknik pembelajaran mendalam sesuai Kurikulum Merdeka.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Horison Kotaraja itu merupakan rangkaian dari workshop tiga hari, dari 15 s.d 17 Juli 2026, dan pada Kamis, 16 Juli 2026, peserta fokus memperkuat kapasitas profesional melalui kerja kelompok sesuai Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Widya Kusmayanti, S.Pd., M.Pd., mengatakan workshop ini merupakan upaya sekolah untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan kesiapan guru mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif.
Menurut Widya, kemampuan guru dalam merancang silabus yang berfokus pada kompetensi dasar murid dan menyelaraskan metode serta instrumen penilaian untuk mencapai tujuan kurikulum.
“Penyusunan silabus yang baik akan menjadi fondasi bagi terciptanya pembelajaran yang bermakna dan relevan bagi murid. Oleh karena itu, hari kedua kami manfaatkan untuk praktik langsung sehingga guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya pada mata pelajaran masing-masing,” ujar Widya.
Widya menjelaskan, setiap MGMP bekerja secara mandiri untuk menyusun atau merevisi dokumen silabus dan perangkat pembelajaran lain yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kebutuhan murid.
Menurutnya, pendekatan ini memberi ruang bagi guru untuk bertukar pengalaman, mengadaptasi strategi pembelajaran efektif, dan menyusun penilaian berbasis kompetensi.
“Mereka melakukan kajian terhadap kompetensi inti dan dasar, menyusun tujuan pembelajaran, menentukan materi pokok, memilih metode pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa, serta merancang teknik penilaian yang mampu mengukur capaian kompetensi secara valid dan autentik,” ujar Widya.
Selain materi teknis, workshop ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antar guru, peran tenaga kependidikan, dan dukungan mitra dalam memperkuat ekosistem pendidikan di sekolah.
Sehingga, tidak hanya menghasilkan dokumen pembelajaran yang lebih berkualitas, tetapi juga mendorong perubahan praktik pembelajaran di kelas.
Serta, mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih bermakna, relevan, dan mampu membekali murid dengan kompetensi yang dibutuhkan di era modern.
Selain itu, membantu guru membangun dokumen pembelajaran yang berorientasi kompetensi serta memastikan kesesuaian antara materi, metode pembelajaran, dan instrumen penilaian.
“Kami ingin para guru tidak hanya memahami konsep Kurikulum Merdeka, tapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam dokumen dan praktik pembelajaran yang konkret,” ujar Widya.
(La Ramah)











