Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol. Fredrickus W. A. Maclarimboen, S.I.K., M.H., CPHR, mendampingi Wali Kota Jayapura Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H serta tamu undangan lainnya saat pangkur sagu, Sabtu, 19 Juni 2026. (XTIFA/Istimewa)
Ringkasan Berita
• “Explore Dusun Sagu” diselenggarakan untuk menyambut Hari Bhayangkara ke-80 dan rangkaian Festival Colo Sagu (FCS) 2026.
• Tujuannya menekankan pelestarian sagu sebagai warisan budaya sekaligus potensi ekonomi masyarakat Papua.
• Simbolis dengan penanaman 80 pohon sagu, menyesuaikan dengan usia Kepolisian RI yang ke-80 pada 1 Juli 2026.
DALAM rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 dan rangkaian Festival Colo Sagu (FCS) 2026, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol. Fredrickus W. A. Maclarimboen menggelar “Explore Dusun Sagu” di Dusun Sagu, Kampung Skouw Yambe, Distrik Muara Tami, Jumat, 19 Juni 2026.
Kegiatan bertema “Sagu Menghidupi, dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi” ini menekankan pentingnya pelestarian sagu sebagai warisan budaya sekaligus potensi ekonomi masyarakat Papua.
Kegiatan ini dihadiri Wali Kota Jayapura Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H, Dansatrol Koarmada III Kolonel Laut (P) Bambang Abdullah Basuki Rahmad, Ketua MRP Papua Nerlince Wamuar, S.E., M.Pd, serta sejumlah pejabat daerah dan unsur Polresta.
Kegiatan menampilkan penanaman simbolis 80 pohon sagu, yang jumlahnya diselaraskan dengan usia Kepolisian Republik Indonesia yang memasuki 80 tahun pada 1 Juli 2026.
Kapolresta Fredrickus dalam rilisnya, Sabtu, 20 Juni 2026, menegaskan Colo Sagu bukan kegiatan baru melainkan kelanjutan perjuangan pelestari sagu yang konsisten menjaga pangan lokal Papua.
“Kegiatan ini bentuk kepedulian agar masyarakat tidak melupakan sagu sebagai sumber kehidupan dan warisan budaya. Kami berharap kegiatan ini mendorong perhatian berbagai pihak untuk menjaga hutan sagu dan meningkatkan nilai ekonominya,” ujar Kapolresta didampingi Ketua Panitia FCS-2026 Michael Yerisetouw.
Kapolresta juga mengumumkan rencana inovatif Polresta Jayapura Kota, yakni mengajak pasangan anggota Polri yang baru menikah untuk menanam sagu sebagai simbol komitmen dan filosofi rumah tangga.
Menurutnya, sagu yang tumbuh lurus melambangkan komitmen dan kesetiaan, sekaligus mencerminkan sifat saling menopang antarwarga karena sagu mampu menyimpan air dan memberi kehidupan bagi tumbuhan lain.
Meski Papua dikenal memiliki sumber daya sagu melimpah, Kapolresta menyayangkan masih sedikit masyarakat yang berhasil mengembangkan potensi ekonominya.
Oleh karena itu, Explore Dusun Sagu menghadirkan edukasi langsung mengenai proses pengelolaan sagu dari hulu ke hilir, mulai pengenalan habitat, penebangan, penokokan, peremasan, pengambilan pati, hingga pengolahan menjadi produk pangan tradisional dan modern.
Wali Kota Abisai Rollo, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menegaskan komitmen pemerintah kota mendukung pelestarian serta pemanfaatan sagu untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Sagu itu hidup, dan hidup itu adalah sagu. Seluruh bagian pohon sagu memberi manfaat besar bagi kehidupan masyarakat Skouw,” ujar Wali Kota Abisai Rollo.
Kegiatan ini dinilainya sebagai inovasi sosial berbasis kearifan lokal yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi bagi generasi muda, tetapi juga sebagai penggerak kemandirian ekonomi dan penopang ketahanan pangan lokal.
Ia berharap Festival Colo Sagu 2026 mampu menguatkan gerakan bersama menjaga warisan leluhur Papua demi keberlanjutan generasi mendatang.
(La Ramah/Subhan)











