Kepala SMP Negeri 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd mendampingi Tri Faturrohman, Tim Kerja SMP UPT Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Papua, menutup MPLS Ramah SMP Negeri Jayapura dengan menabuh Tifa, Jumat, 10 Juli 2026. (XTIFA/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Konsep “MPLS Ramah” diterapkan berbeda dari MPLS pada umumnya, dengan fokus pada kenyamanan dan keamanan murid baru.
• Tujuannya untuk memberikan dukungan emosional dan pengawasan konsisten bagi anak saat transisi ke SMP.
• Terwujudnya pembentukan karakter dan prestasi akademik yang berkesinambungan (jangka panjang).
KEPALA SMP Negeri 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd., menegaskan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun pelajaran ini difokuskan pada konsep “MPLS Ramah” dengan melibatkan peran aktif orang tua.
Program tersebut diterapkan untuk memastikan perhatian penuh dan keterlibatan keluarga dalam proses adaptasi khususnya bagi 389 murid baru pada Tahun Ajaran 2026/2027 yang diterima di sekolah.
Dorthea mengatakan, pendekatan MPLS Ramah tidak hanya menekankan pengenalan budaya sekolah aman dan nyaman bagi murid, tetapi juga mengajak orang tua untuk berperan sejak tahap pra-MPLS.
“Kami mengundang orang tua untuk terlibat lebih awal agar anak-anak mendapatkan dukungan emosional dan pengawasan yang konsisten saat memasuki jenjang SMP,” ujar Dorthea usai penutupan MPLS Ramah, Jumat, 10 Juli 2026.
Menurutnya, tujuan utama MPLS Ramah adalah mendorong lingkungan pembelajaran yang aman dan mendukung, sekaligus membangun kebiasaan positif di kalangan murid.
Selain itu, program ini dirancang untuk menanamkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yakni nilai-nilai karakter yang menjadi rujukan bagi perilaku sehari-hari murid seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat).
Selain itu, sekolah juga memperkuat penerapan budaya 5S, yaitu sikap, salam, sopan, santun, dan senyum sebagai bagian dari kehidupan sekolah yang disiplin dan peduli.
“Dengan menggabungkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dan budaya 5S, kami berharap murid baru dapat menyesuaikan diri tidak hanya dari sisi akademis, tetapi juga aspek karakter dan kehidupan sosial di sekolah,” ujar Dorthea.
Ia menekankan, pembentukan karakter sejak dini akan memberi dampak jangka panjang terhadap prestasi akademik dan keharmonisan budaya sekolah aman dan nyaman.
Pelibatan orang tua, lanjutnya, dilakukan melalui beberapa kegiatan pra-MPLS, termasuk sosialisasi kebijakan sekolah, pengarahan tentang peran orang tua dalam proses pembelajaran, dan workshop singkat tentang cara mendampingi anak selama masa transisi ke SMP.
Sekolah juga membuka kanal komunikasi aktif bagi wali murid untuk berkonsultasi dengan pendidik mengenai kebutuhan dan perkembangan anak.
Ia menambahkan, sekolah telah menyiapkan sumber daya manusia dan sarana pendukung untuk menyambut rombongan siswa baru tersebut.
Perhatian penuh dari orang tua dan keberlanjutan kebiasaan baik di rumah serta sekolah harus menjadi sinergi. Menurutnya, sekolah tidak bisa berdiri sendiri dalam membentuk karakter anak dan peran keluarga sangat penting.
“Adanya MPLS Ramah yang melibatkan orang tua serta penekanan pada tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dan budaya 5S, SMPN 2 Jayapura berharap proses adaptasi 389 murid baru berjalan lancar, tercipta lingkungan sekolah yang lebih inklusif, serta tercapai tujuan pembentukan karakter dan prestasi akademik yang berkesinambungan,” ujar Dorthea.
(La Ramah)











