Topi terbang, harapan terangkat, dan sorak gembira 389 murid baru pada penutupan MPLS SMP Negeri 2 Jayapura Tahun Ajaran 2026/2027, Jumat, 10 Juli 2026. (XTIFA/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Meminta orang tua memberikan kepercayaan penuh kepada pihak sekolah dalam proses pendidikan anak.
• Pelaksanaan MPLS mencerminkan sinergi sekolah dan orang tua dengan pendekatan humanis dan tertib.
• Sebanyak 389 murid baru SMP Negeri 2 Jayapura mengikuti penutupan MPLS Ramah Tahun Ajaran 2026/2027.
SEBANYAK 389 murid baru SMP Negeri 2 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, mengikuti upacara penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027, yang digelar di halaman sekolah, Jumat, 10 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung sejak 6 Juli lalu menutup rangkaian orientasi yang dirancang untuk memperkenalkan murid pada budaya, aturan, dan pembelajaran di lingkungan SMPN 2 Jayapura.
Upacara penutupan dipimpin Tri Faturrohman, mewakili Tim Kerja SMP UPT Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Papua, dan dihadiri kepala sekolah, pengawas pembina, serta para orang tua murid.
Hadirnya perwakilan dinas pendidikan menambah bobot kegiatan yang tahun ini mengambil tema membentuk “Generasi Emas” melalui pendidikan menengah pertama yang berkualitas dan ramah anak.
Dalam sambutannya, Tri mengapresiasi kepada seluruh pihak baik murid, orang tua, dan tenaga pendidik serta tenaga kependidikan atas komitmen mereka selama pelaksanaan MPLS.
“Saya mengapresiasi komitmen seluruh pihak selama proses pengenalan ini. Sekolah telah menunjukkan upaya serius membentuk lingkungan yang aman dan ramah bagi peserta didik,” ujar Tri.
Tri berharap murid menempatkan SMPN 2 Jayapura sebagai rumah kedua, sehingga mereka menjunjung tinggi tanggung jawab terhadap setiap peraturan dan nilai yang ditanamkan di sekolah.
Tri juga menegaskan pesan kepada orang tua agar menyerahkan kepercayaan penuh kepada pihak sekolah selama masa pengalaman belajar.
“Kami meminta orang tua untuk mempercayakan proses pendidikan anak selama berada di budaya sekolah aman dan nyaman (lingkungan sekolah). Kepercayaan ini penting agar guru dan tenaga kependidikan dapat bekerja maksimal membimbing mereka menjadi generasi yang berkarakter,” ujar Tri.
Kepala SMP Negeri 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd., mengatakan penyelenggaraan MPLS tahun ini mengusung konsep “MPLS Ramah”, dengan tujuan memastikan orientasi berjalan tanpa menimbulkan tekanan pada siswa baru.
Menurutnya, pendekatan ramah anak menjadi prioritas agar murid dapat beradaptasi secara emosional dan akademis pada masa transisi dari SD ke SMP.
Dorthea menambahkan, sekolah menerapkan kombinasinya program nilai karakter, di antaranya pengenalan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat (bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat).
Serta, penguatan budaya 5S (senyum, sapa, salam, santun, sopan) sebagai bagian dari budaya sekolah sehari-hari, sekaligus menjadi pedoman perilaku murid di sekolah.
“Kami fokus pada pembentukan karakter melalui kebiasaan positif, disiplin, dan tanggung jawab. Budaya 55 kami jadikan pedoman agar kegiatan belajar-mengajar berjalan tertib dan produktif,” ujar Dorthea.
Ia juga mengatakan, program MPLS yang berjalan sejak 6 Juli s.d 10 Juli 2026 mencakup kegiatan pembinaan karakter, pengenalan kurikulum dan sarana-prasarana, bimbingan konseling, serta pengenalan ekstrakurikuler.
Selama lima hari, murid baru mendapatkan materi yang dirancang untuk memudahkan adaptasi, antara lain etika sekolah, tanggung jawab akademik, serta pengenalan organisasi siswa dan kegiatan kepemimpinan.
Pada sesi penutupan, sekolah menampilkan sejumlah kegiatan kreatif dari murid baru untuk menunjukkan hasil pembelajaran singkat selama MPLS, sekaligus menjadi bukti kemampuan awal murid menyesuaikan diri dengan budaya sekolah.
Selain itu, pelaksanaan MPLS ini mencerminkan sinergi antara sekolah dan orang tua serta pendekatan yang humanis dan tertib untuk membentuk lingkungan belajar yang kondusif.
“Kami berkomitmen untuk terus membina murid, agar mencapai prestasi akademik, sehingga menjadi generasi berkarakter yang mampu berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Dorthea.
(La Ramah)











