Kepala SMPN 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd., menyampaikan sambutan pada pembukaan MPLS Ramah Tahun Ajaran 2026/2027, Senin, 6 Juli 2026. (XTIFA/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Berdasarkan Permendikbud Nomor 12 Tahun 2026 tentang masa orientasi murid baru.
• Mengedepankan pendekatan ramah anak.
• Berfokus pada pembentukan karakter sejak awal masa pendidikan.
SEKOLAH Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Jayapura, Kota Jayapura, Papua, menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah untuk Tahun Ajaran 2026/2027, dengan menekankan penguatan karakter sebagai tema utama kegiatan.
Penguatan karakter tersebut melalui budaya 5S (senyum, sapa, salam, santun, sopan) serta, tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat (bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat).
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, dari 6 s.d 10 Juli 2026, diikuti 387 murid baru yang terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel), masing-masing berisi 36-38 murid.
Kepala SMPN 2 Jayapura, Dorthea Carolien Enok, S.Pd., menjelaskan MPLS kali ini diselenggarakan sesuai Permendikbud Nomor 12 Tahun 2026 tentang pelaksanaan masa orientasi bagi murid baru.
Menurutnya, penyelenggaraan mengedepankan pendekatan ramah anak sekaligus berfokus pada pembentukan karakter sejak awal masa pendidikan.
“Maksud dan tujuan MPLS adalah mengenalkan murid pada budaya sekolah aman dan nyaman, guru, dan aturan yang mendukung pada pengalaman belajar dan proses memuliakan murid, sekaligus membangun karakter melalui praktik budaya 5S dan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat,” ujar Dorthea Enok usai pembukaan MPLS Ramah di halaman sekolah, Senin, 6 Juli 2026.
Ia juga mengatakan, program MPLS di SMPN 2 Jayapura tidak hanya memuat pengenalan fasilitas dan tata tertib sekolah.
Panitia menyusun rangkaian kegiatan yang menanamkan nilai-nilai kerukunan, tanggung jawab, dan kedisiplinan.
Salah satu agenda utama adalah penguatan gerakan rukun dengan teman sebagai upaya membangun iklim sosial yang inklusif pada budaya sekolah aman dan nyaman atau lingkungan sekolah.
Selain itu, panitia menghadirkan narasumber dari beberapa instansi penegak hukum dan penyuluhan untuk memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme dan penyalahgunaan narkotika.
Badan Narkotika Nasional (BNN) serta perwakilan Lapas Kelas I Abepura turut memberikan materi terkait pencegahan narkoba dan konsekuensi hukum dari tindakan kriminal.
Keterlibatan Densus 88 juga dihadirkan dalam materi yang berkaitan dengan radikalisme, sebagai bagian dari upaya pencegahan dini pada kalangan pelajar.
“Kami ingin murid mendapatkan wawasan luas tentang ancaman-ancaman yang dapat mengganggu masa depan mereka, seperti narkotika dan paham radikal. Pemahaman ini penting agar mereka bisa memilih pergaulan dan kegiatan positif,” ujar Dorthea Enok.
Partisipasi semesta pendidikan bermutu atau pelibatan orang tua, lanjut Dorthea Enok, menjadi bagian integral dari kegiatan.
Pada salah satu hari pertama MPLS, sekolah mengundang wali murid untuk mengikuti sosialisasi tentang peran orang tua dalam mendukung pendidikan dan penguatan karakter anak di rumah, sehingga memperkuat implementasi nilai-nilai yang diperkenalkan selama MPLS.
Sejumlah guru juga memperkenalkan metode belajar dan ekspektasi akademik sehingga murid baru lebih siap menghadapi proses memuliakan murid.
Kepala sekolah menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara guru dan murid, serta penerapan 5S dan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, dalam interaksi sehari-hari untuk menciptakan suasana sekolah yang ramah, aman, dan tertib.
Murid tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk permainan edukatif, diskusi kelompok, dan simulasi yang dirancang untuk memperkuat kerja sama serta etika berinteraksi.
“Saya senang bisa bertemu teman baru dan belajar tentang bagaimana bersikap sopan serta saling menghormati,” ujar seorang murid baru.
Dorthea Enok menambahkan, di akhir kegiatan pada hari pertama MPLS, panitia mengevaluasi singkat untuk menilai pemahaman murid terhadap materi yang diberikan serta kesiapan mereka memasuki pengalaman belajar resmi.
“Hasil evaluasi akan menjadi bahan tindak lanjut bagi sekolah dalam memperbaiki program pembentukan karakter dan orientasi bagi baru. Saya mengajak orang tua, dan guru untuk terus bekerjasama mewujudkan suasana sekolah yang positif dan mendukung keberhasilan belajar setiap anak,” ujar Dorthea Enok.
(La Ramah)











