Asisten I Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si, membuka kegiatan penyusunan dan penulisan buku cerita rakyat Port Numbay Jilid III dengan menabuh Tifa, Kamis, 25 Juni 2026. (XTIFA/La Ramah)
Ringkasan Berita
• Melestarikan bahasa daerah Port Numbay (Kota Jayapura) yang kondisinya semakin memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius.
• Membukukan 30 cerita rakyat baru dan 10 puisi berbahasa Port Numbay.
• Seluruh naskah berbahasa Port Numbay diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
UPAYA pelestarian bahasa daerah di Tanah Papua terus digalakkan. Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kembali menggelar penyusunan dan penulisan buku cerita rakyat Port Numbay Jilid III tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di SIP Azana Hotel Jayapura ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai dari 25 s.d 27 Juni 2026 dan dihadiri oleh para kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan serta sejumlah tamu undangan.
Kegiatan yang digagas oleh Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Jayapura ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa Port Numbay yang semakin memprihatinkan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Jayapura, Grace L. Yoku, S.Pd., M.Pd, mewakili Kepala Dinas Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd, mengatakan kondisi bahasa Port Numbay saat ini membutuhkan perhatian serius.
“Bahasa Port Numbay sebagai salah satu aset budaya daerah kita semakin memprihatinkan. Untuk itu, kami bergerak cepat agar bahasa ini tetap lestari. Salah satu caranya adalah dengan mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan, terutama melalui buku cerita rakyat ini,” ujar Grace Yoku, Kamis, 25 Juni 2026.
Dalam penulisan Jilid III ini, lanjut Grace Yoku, Disdikbud menargetkan untuk membukukan sebanyak 30 judul cerita rakyat baru dan 10 puisi berbahasa Port Numbay (Kota Jayapura) dari 10 kampung adat. Seluruh naskah dalam bahasa Port Numbay diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
“Hal ini dimaksudkan agar tidak hanya penutur asli yang dapat menikmati kekayaan sastra lisan tersebut, tetapi juga masyarakat luas, terutama generasi muda yang mungkin sudah tidak fasih lagi berbahasa Port Numbay,” ujar Grace Yoku.
Ondoafi Kampung Nafri (Keondoafian Sembekra), Dr. Robby Kepas Awi, S.E., M.M, mengapresiasi dan berterima kasih atas inisiatif penyusunan buku cerita rakyat ini.
Menurutnya, pelestarian bahasa dan budaya adalah tanggung jawab bersama sehingga seluruh elemen masyarakat untuk turut serta menjaga warisan leluhur.
“Kalau bukan kita siapa lagi. Di manapun berada, kita tetap satu hati membangun kota untuk kemuliaan Tuhan,” ujar Robby Awi.
Kepala Bahasa Papua, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum, diwakili Esther Rita Embram, S.S, menegaskan identitas jati diri daerah harus tetap dipertahankan.
Ia berharap agar kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi perkembangan bahasa dan kesastraan di Papua, khususnya di Kota Jayapura.
“Kami siap memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bahasa dan kesastraan di Papua, secara khusus di Kota Jayapura. Ini adalah investasi budaya yang sangat berharga,” ujar Esther.
Asisten I Sekretariat Daerah Kota Jayapura, Evert Nicolas Merauje, S.Sos., M.Si, mewakili Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H, berharap buku cerita rakyat Jilid III ini dapat segera diselesaikan.
Selain itu, menjadi salah satu rujukan penting dalam pembelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah serta menjadi warisan budaya yang tak ternilai bagi generasi penerus.
“Adanya penulisan dan penerjemahan ini, diharapkan bahasa Port Numbay tidak hanya terpelihara dalam ingatan, tetapi juga hidup dan berkembang dalam khazanah literasi bangsa,” ujar Nicolas Merauje.
(La Ramah)











